Oct
14
2010
8

Studi kasus Departemen Front Office SURABAYA PLAZA HOTEL


Studi kasus Departemen Front Office SURABAYA PLAZA HOTEL

Hotel sebagai salah satu industri jasa yang
menyediakan jasa penginapan mengalami perkembangan
yang sangat pesat, sehingga timbul banyak
persaingan dalam industri ini. Di masa krisis yang
melanda seperti saat ini, banyak pihak yang menyadari
adanya tuntutan untuk memiliki kemampuan
dalam membuat rencana pengembangan sumber
daya manusia yang berkualitas.

Dalam upaya pengembangan ini, pihak manajemen
khususnya di bidang jasa seperti hotel dapat
melakukan perbaikan ke dalam, yaitu dengan melakukan
performance appraisal. Menurut pendapat
Rivai (2005) evaluasi kinerja (performance evaluation)
yang dikenal juga dengan istilah penilaian kerja
(performance appraisal), performance rating, performance
assessment, employee evaluation, merit,
rating, efficiency rating, service rating, pada
dasarnya merupakan proses yang digunakan
perusahaan untuk mengevaluasi job performance.
Jika dikerjakan dengan benar, hal ini akan
memberikan manfaat yang penting bagi karyawan,
departemen sumber daya manusia, maupun bagi
hotel itu sendiri.
Lebih lanjut kinerja karyawan akan mencapai
hasil yang lebih maksimal apabila didukung dengan
knowledge yang dimiliki. Setiap karyawan diharapkan
dapat terus menggali pengetahuannya dan tidak
hanya bergantung atau terpaku pada sistem yang ada.
Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap karyawan
mempunyai peran di dalam meningkatkan perusahaannya.
Seperti yang dikatakan oleh Fatwan
(2006), faktor yang mempengaruhi lingkungan bisnis
saat ini bukan lagi era informasi, tetapi sudah beralih
ke era pengetahuan.

Menyadari adanya fenomena tersebut maka
Surabaya Plaza Hotel melakukan suatu gebrakan
dengan menerapkan knowledge management (KM)
pada karyawannya. Berdasarkan penuturan Anshori
(2004) selaku General Manager SPH, knowledge
management yang diterapkan pada Surabaya Plaza
Hotel terbagi menjadi 2 yaitu, tacit knowledge dan
explicit knowledge. Yang pertama adalah pengetahuan
individu yang didapat dari pengalaman
keseharian, yang sulit diduplikasikan dan diajarkan
kepada orang lain dimana penulis mengkategorikan

dalam bentuk pengetahuan individu atau personal knowledge.

Yang kedua, pengetahuan yang bisa
ditransformasikan antar individu sehingga lebih
mudah dideskripsikan ke dalam dokumen, praktik,
pelatihan dan lain-lain dimana penulis mengkategorikan
dalam bentuk job procedure, dan technology.
Pada akhirnya suatu sistem manajemen baru
seperti knowledge management tentunya membutuhkan
proses yang cukup lama untuk penyesuaiannya,
sehingga dibutuhkan metode-metode yang kooperatif
agar dapat membantu kelancaran sistem tersebut.
Surabaya Plaza Hotel sendiri telah menjalankan
sistem ini sejak pertengahan juni 2002 lalu,
walaupun ada hambatan dan kesulitan yang dihadap
namun pasti ada hasil yang telah diraih oleh pihak
manajemen sendiri.

Pembahasan :

1. Apa Pengaruh Knowledge Management pada kinerja karyawan ?

Knowledge Management berdampak positif dalam proses meningkatkan tingkat produktivitas karyawannya. Karena dibagi berdasarkan tacit dan explicit knowledge. Melalui sharing pengalaman yang dimiliki membuat para karyawan dapat membantu satu sama lain dalam melengkapi pengetahuannya baik tentang pelanggan atau terhadap perusahaan. Walaupun masih dalam proses penerapan yang membutuhkan waktu, tapi secara perlahan, karyawannya akan mulai terbiasa dengan pengaturan knowledge ini yang secara tidak langsung mendisiplinkan mereka dalam membagi ilmunya.

Written by Angga Sany in: Knowledge Management | Tags:
Oct
14
2010
3

Ada Apa dengan Indomie

Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran.  Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.

Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. “Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini,” kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di  Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadai, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.
A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%.

Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah.

Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.

1. Apa masalah yang dihadapi oleh Indofood?

Adanya kandungan yang berbahaya dalam kemasan Indomie yang selama ini telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas sebagai subsitusi dari makanan pokok sperti nasi.

2. Solusi seperti apa yang dapat di ambil untuk mengatasinya ?

Solusi yang dapat di ambil ialah, melakukan pengujian secara keseluruhan secara ulang mengenai kandungan zat-zat yang ada dalam kemasan Indomie, karena sangat menggemparkan apabila kemudian indomie di tarik dari peredaran. Karena seperti kita ketahui ada sebagian besar orang yang bergantung hidup pada produk ini, seperti para penjual warung indomie/ warung kopi. Apabila kemudian ditarik dari peredaran lalu apa yang akan menjadi sumber nafkah mereka sehari-hari? Pihak Indomie juga seharusnya memiliki pengaturan knowlegde mengenai bagaimana mengatasi masalah ini. Seperti pengakuan yang telah diberikan oleh Ketua BPOM Kustantinah, yang sebenarnya sudah memeriksa kandungan zat-zat dalam Indomie, yang apabila tidak layak maka harus diperbaiki lagi dalam pemilihan kandungan zat-zat yang ada dalam indomie tersebut.

3. Apa hal yang dapat dipelajari dari kasus di atas?

Memang tidak mudah dalam menciptakan inovasi untuk membuat produk baru yang cepat diminati oleh banyak orang, tapi kita juga harus menyadari efek samping dari pemakaian produk yang akan kita pasarkan dan memiliki back-up plan apabila terjadi kasus seperti kasus ini. Karena jika tidak, tidak hanya akan merugikan perusahaan tapi masyarakat luas serta kepercayaan yang ada akan cepat hilang.

Written by Angga Sany in: Knowledge Management | Tags:

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio